Desember 01, 2010

Home > > Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Langit di timur mulai benderang ketika aku melangkah ke luar. Belum seorang pun di Dukuh Paruk yang sudah kelihatan. Langkahku tegap dan pasti. Aku, Rasus, sudah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan. Tanah airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aku telah bersumpah tidak akan memaafkannya karena dia pernah merenggut Srintil dari tanganku. Bahkan lebih dari itu. Aku akan memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!. (Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari) 

Trilogi ini terdiri dari Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1984), dan Jantera Bianglala (1985).

Trilogi ini berlatar belakang di Dukuh Paruk, sebuah dukuh fiktif, pada tahun 50-an. Novel ini mengisahkan cinta antara Rasus dan Srintil yang terhalang oleh keadaan. Terpilihnya Srintil sebagai ronggeng baru setelah 12 tahun Dukuh Paruk kehilangan ronggeng memaksa Rasus untuk rela berpisah dengan Srintil. Kecantikan dan keterampilan Srintil membuat Dukuh Paruk seperti mendapatkan durian runtuh. Dukuh Paruk yang semula miskin menjadi meningkat kesejahteraannya karena keberadaan Srintil yang kerap ditanggap di mana-mana.

Kepolosan dan ketidak-tahuan warga dukuh rupanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi politik tanpa mengetahui apa maksud mereka sebenarnya. Akibatnya, ketika terjadi pergolakan politik pada tahun 1965, beberapa warga dukuh termasuk Srintil yang diduga terlibat dalam organisasi politik yang dilarang oleh pemerintah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Menjadi tahanan politik ternyata memberikan trauma mendalam pada diri Srintil. Ia kini tidak mau meronggeng lagi. Dia menginginkan menjadi wanita biasa, menjadi ibu. Namun ketika ia mulai menata hidupnya dan menemukan lelaki lain, dengan tiba-tiba Srintil kembali mengalami kepahitan hidup. Jauh lebih pahit dari sebelumnya. Rasus yang kembali dari kepergiannya menjadi tentara harus menemui Srintil yang telah tenggelam dalam kepahitan hidup. 



Artikel yang sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar