Desember 25, 2010

Home > > Mantra Penjinak Ular - Kuntowijoyo

Mantra Penjinak Ular - Kuntowijoyo

"SEBUAH DESA, SEBUAH MITOS” 

Begitulah subjudul Kuntowijoyo mengawali cerita bersambungnya yang dimuat di Kompas mulai hari ini, berjudul Mantra Pejinak Ular.

Menokohkan Abu Kasan Sapari yang dipercaya oleh kalangan terdekatnya sebagai masih keturunan pujangga besar Ronggowarsito, cerita ini berlatar belakang kehidupan sosial berikut dunia batin masyarakat desa di wilayah kebudayaan Jawa, Surakarta, dan sekitarnya, taruhlah seperti Klaten serta daerah lain yang berasosiasi pada desa-desa di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Dalam setting budaya Jawa berikut warna Islam yang selalu mewarnai karya-karya Kunto, Abu Kasan Sapari bertumbuh dalam suatu proses dialektik dengan zaman yang terus bergerak, pada kurun waktu kira-kira menjelang akhir abad ke-20. Abu Kasan Sapari mewarisi bakat mendalang dan segala olah batin dari para leluhurnya. Itulah yang membuat seorang tua-datang entah dari mana-tiba-tiba pada suatu hari menemuinya dan mewariskan mantra atau ilmu penjinak ular.

Sebagai dalang, sebagai pegawai kecamatan di desa di kaki Gunung Lawu, atau sebagai siapa saja manusia Indonesia yang hidup pada periode zaman ini, pasti mengalami, bersentuhan, bertubrukan, atau sedikitnya menjadi saksi, bagaimana mesin politik Orde Baru-Soeharto beroperasi.

Situasi berikut yang dihadapi Abu Kasan Sapari adalah bagaimana Abu, dengan segala pemahamannya yang khas atas dunia, menghadapi apa yang disebut Kunto sebagai “mesin politik”. Si “mesin politik” yang menjadi antagonis mengingatkan bagaimana kekuasaan politik di akhir abad ke-20 Indonesia beroperasi sampai ke desa-desa.

Sesuai dengan sifat cerita dan sikap yang dipilih Kunto di situ, perbenturan antara sebuah pribadi di desa dengan “mesin politik” dilukiskan tidak dalam tabrakan yang seru, namun liris dan menyentuh rasa keadilan.

Kuntowijoyo, kelahiran Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943, sejarawan terpandang pengajar di Universitas Gadjah Mada, sudah lama dikenal sebagai penulis yang piawai. Beberapa karyanya, seperti novel Pasar, meraih hadiah Panitia Hari Buku, 1972.

Naskah dramanya, Topeng Kayu, mendapat hadiah kedua Dewan Kesenian Jakarta, 1973. Bagi harian Kompas sendiri, Kunto istimewa. Cerpen-cerpennya yang dimuat di harian ini selalu terpilih oleh tim penyeleksi cerpen-cerpen pilihan Kompas baik sebagai cerpen pilihan maupun cerpen terbaik.

Dengan subjudul “Sebuah Desa, Sebuah Mitos” sebagai pembuka cerita bersambungnya kali ini, seperti ada sebuah ancar-ancar, desa yang hendak digambarkan Kunto barangkali memang hanya akan tinggal sebagai mitos. Kedamaian, keindahan, keluguan, dan kecantikan alami tokoh wanita di situ, konflik politik pada tingkat lokal, semua terpotret seperti sebuah unikum yang tidak bergerak-atau kalau bergerak pun sangat pelan. Spirit itu menyatu dengan presentasi yang mengalir damai seperti air di sungai dan parit-parit di desa-desa di lereng Gunung Lawu. Selamat menikmati.

Download  : Mantra Penjinak Ular


Artikel yang sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar